Ini Sebabnya Utang Luar Negri Indonesia Nyaris Rp6.000 Triliun

Bank Indonesia (BI) menemukan utang luar negeri Indonesia mencapai USD 416,6 miliar atau Rp5,855 triliun (kurs Rp 14.055 per dolar AS) pada akhir November 2020.

Hutang naik 3,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan dengan demikian di atas bulan sebelumnya 3,3 persen.

Direktur Komunikasi Erwin Haryono mengatakan utang itu berasal dari dua sumber. Pertama, utang sektor publik yang ditagih pemerintah dan BI adalah $ 206,5 miliar. Kedua, ULN swasta yang mencapai $ 210,1 miliar.

BACA JUGA  Harga Minyak Dunia Mulai Naik Dampak Dari Pemulihan Ekonomi AS

Erwin menuturkan, kenaikan utang tersebut merupakan kenaikan utang luar negeri pemerintah.

“Selain itu, penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga turut mendorong apresiasi utang luar negeri dalam denominasi rupiah,” kata keterangan resmi, Selasa (19/1).

Untuk utang pemerintah, BI menemukan posisi utang luar negerinya mencapai $ 203 miliar, atau naik 2,5 persen year over year.

Pertumbuhan ini lebih tinggi dibanding bulan Oktober dan hanya 0,3 persen (year-on-year).

Menurut dia, pertumbuhan utang publik akan ditopang oleh kepercayaan investor yang akan mendorong aliran modal asing masuk ke pasar surat berharga negara (SBN).

BACA JUGA  Utang Luar Negeri Indonesia Tembus Rp5.868 T per Oktober 2020

Selain itu, tambahan utang tersebut karena adanya penarikan pinjaman luar negeri untuk mendukung penanggulangan pandemi Covid-19 dan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

“ULN pemerintah akan terus dikelola dengan hati-hati, kredibel dan akuntabel untuk mendukung belanja prioritas,” ujarnya.

Utang luar negeri sektor swasta mencapai $ 210,1 miliar, atau naik 5,2 persen tahun ke tahun. Berbeda dengan utang nasional, utang swasta melambat dibandingkan dengan pertumbuhan bulan ke bulan sebesar 6,4 persen (year-on-year).

Penurunan survei utang tersebut disebabkan perlambatan pertumbuhan ULN non lembaga keuangan dari 8,3 persen menjadi 7,2 persen pada November.

BACA JUGA  Utang Indonesia Lampaui Rp6.100 Triliun per Agustus 2020

Pemicu perlambatan juga terjadi pada utang luar negeri lembaga keuangan yang menyusut 1,4 persen.

Dengan komposisi tersebut, lanjut Erwin, utang luar negeri Indonesia masih sehat. Hal itu tercermin dari rasio utang luar negeri yang terkendali sebesar 39,1 persen.

Sehatnya rasio utang juga tercermin dari struktur utang luar negeri Indonesia yang dalam jangka panjang mencapai 89,3 persen.

“Untuk menjaga agar struktur ULN tetap sehat, BI dan pemerintah akan terus memperkuat koordinasi dalam memantau perkembangan utang yang didukung dengan penerapan prinsip prudent management,” ujarnya.

BACA JUGA  Indonesia Calonkan Jadi Tuan Rumah Ajang Olimpiade 2032

Leave a Comment