Perjalanan Hijrah Ustad Felix Siauw, Mualaf Karena Satu Ayat Al-Quran

Perjalanan Hijrah Ustad Felix Siauw, Mualaf Karena Satu Ayat Al-Quran

Nama Ustaz Felix Siauw mungkin sudah tidak asing di telinga masyarakat. Dikenal sebagai keturuan Tionghoa yang menjadi mualaf, perjalanannya menjalani kehidupan sebagai muslim juga selalu menarik perhatian.

Semenjak Mualaf, Ustaz Felix Siauw tidak hentinya untuk berdakwah baik di hadapan publik maupun melalui media sosialnya.

Sebelum menjadi seorang mualaf saat di bangku kuliah, Felix Siauw mengaku dirinya merupakan seorang yang tidak percaya pada Tuhan (atheis).

Lalu bagaimana cerita perjalanan dirinya akhirnya meyakini agam islam? Yuk simak penjelasan Ustaz Felix Siaw berikut ini.

Sosok yang Kritis

Dalam channel YouTube, Arie Untung, dijelaskan oleh Felix Siauw bahwa dia adalah sosok orang yang sangat kritis.

Saking kritisnya dia mengaggap orang yang ‘mampu dalam agama’ adalah orang yang tidak pernah berfikir.

“Dulu saya merasa ingin tahu dan mempertanyakan segala sesuatu akhirnya menganggap bahwa orang ‘yang mampu dalam agama’ adalah orang yang justru tidak pernah berfikir.

Seolah-olah mereka enggak pernah bertanya makanya kadang kita ejek. Kenapa diejek? Karena udah susah jelasin yang sudah saya pikir ke orang yang tidak pernah berfikir,” kata Felix Siauw dalam tayangan itu.

Hijrah

Dijelaskan Ustaz Felix, sebelum hijrah dia memiliki kelompok pertemanan, yang mana salah satunya adalah wanita. Wanita tersebut diketahui sering bermain PS hingga sepak bola bersama dia dan teman-temannya.

Namun satu waktu wanita tersebut sudah tidak lagi bermain bersama lantaran sudah berhijrah. Hingga satu waktu, wanita tersebut mengingatkan Ustaz Felix untuk bertaubat.

“Terus satu waktu ‘kok dia berubah ya?’ Tapi kita enggak ngomong langsung ke dia sampai satu waktu ketika kita lagi asik main game ketika pas lagi keluar main di sekolah dia bilang Lix bertaubatlah kerajaan Allah sudah dekat’,” kata Felix mengenang waktu itu.

Seperti apa sikap Felix saat temannya mengajaknya bertaubat? Simak cerita berikutnya!

Namun sayangnya, ungkapan temannya itu tidak digubrisnya sama sekali. Dia bahkan menyepelekan ujaran temannya itu dan tidak mau berteman lagi dengannya.

“Kemudian saya ngomong gini ‘kerajaan Allah dari Hong Kong’, sejak saat itu semua orang yang ‘kayak sudah berhijrah’ kita anggap sudah mampu agama. Mereka udah enggak usah ditemenin mereka orang yang terlalu fundamentalis mereka terlalu berlebihan karena kita diajarin agama itu kamu sama Tuhan.

Kalau sama orang lain enggak usah bawa-bawa agama,” jelas Felix Siauw.

Felix Siauw menemukan Islam

Dijelaskan oleh Felix Siauw dia mulai mengenal Islam, saat dia menemukan sebuah ayat dalam Al Qur’an. Dari surat yang dibacakan untuknya kala itu membuat dia terus berfikir seperti yang senang dilakukannya.

“Di satu titik saya secara singkat menemukan oh ternyata ada sebuah agama yang suruh orang mikir. Dalam satu titik saya menemukan ada agama yang justru kalau orang enggak mikir malah disalahin ada orang enggak curious malah dibilang dia calon yang mendapatkan kesulitan dan calon mendapatkan azab, dan kemudian saya lihat agamanya ini agama Islam yang setahu saya dulu enggak gitu,” jelas dia.

Padahal, kata dia, sepemahamannya dulu sebelum menjadi mualaf, umat muslim tidak pernah berfikir. Dia menjelaskan kala itu bahwa umat muslim identik dengan kebodohan karena selalu menyalahkan takdir atas hidupnya.

“Setau saya agama Islam ini enggak mikir, mereka identik bodoh, menyalahkan takdir kenapa miskin takdir, kenapa kamu bodoh ranking rendah ya sudah begitu takdir saya.

Maka kemudian yang saya temukan tidak gini dalam Islam. Poin saya melihat Islam adalah agama yang berbeda agama Islam justru suruh semua orang mikir supaya dapat Islam, dan Islam itu ketika orang suruh mikir ketika dia dapat Islam maka Islam menentukan jalan-jalannya yang masuk logika,” kata dia. Berikutnya, cerita Felix menemukan satu ayat Al-Quran.

Temukan Islam lewat satu ayat dalam Al Qur’an

Ketika dirinya dibacakan satu ayat Al Quran yang berbunyi, “Dan bila kamu tetap dalam keraguan terhadap apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami Muhammad, maka datangkan satu surat yang semacamnya”.

Saat mengetahui ayat tersebut, Felix merasa bahwa ayat tersebut terdengar sombong. Karena ayat itu menantang orang untuk mendatangkan kitab yang semacam Al Quran.

“Jadi seolah-olah gini ‘kalau kamu benar Lix kamu datangin semacam Al Quran kamu cari ayat yang pendek, surat yang paling pendek kamu datangkan semacamnya berarti Al Quran yang salah, kamu yang benar.

Tapi kalau kamu enggak bisa kamu harus akui bahwa ini kitab bukan datang dari manusia ini berarti datang dari luar manusia yang menguasai pasti-pasti yang enggak bisa kamu pikir’,” jelas dia.

Dia mencontoh sehebatnya orang mikir dia tidak bisa menjawab kenapa dunia ini ada sehebat-hebatnya dia, sekeren-kerennya dia, tapi kejadian di dunia ini terlalu rumit untuk dijelaskan oleh manusia sehingga orang-orang yang membahas ini pun akan sampai pada kesimpulan ini perhitungan yang maha rumit kejadiannya.

Dia juga menambahkan bahwa orang sepintar apapun tidak bisa jawab kenapa orang itu bisa hidup dan kenapa dia bisa mati. Kenyataanya ada orang hidup dan mati.

“Saya ditanya kenapa ada orang hidup dan mati, karena saya belajar biologi saya jelaskan secara biologi. Kemudian teman saya tanya lagi, mayat juga ada organ dan jantung tapi dia enggak hidup.

Dari situ ada sesuatu yang berbeda yang kita enggak bisa jawab,” kata dia.

Dia kemudian mengingatkan ayat yang pernah dibacakan untuknya. Dari situ dia merasa bahwa Tuhan itu ada dan Tuhanlah yang menciptakan segala sesuatunya.

“Itu seperti mind blowing buat saya, seperti jerami kebakar bagi saya. Dari situ saya menyadari akal manusia itu terbatas dan kalau kita mikir sampai sini kita harus menerima keberadaan yang keberadaan ini yang mengadakan semua ini enggak ada teori yang jawab ini.

Satu-satunya teori ada makhluk kata orang luar ada makhluk di luar ruang dan waktu yang mengadakan ruang dan waktu,” jelas Felix Siauw.

Sumber: VIVA.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *