Heboh Postingan Anies Baswedan Baca Buku 'How Democracies Die'

Heboh Postingan Anies Baswedan Baca Buku ‘How Democracies Die’

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menghebohkan dunia maya usai mengunggah foto membaca buku karya Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt, How Democracies Die. Kontribusi tersebut menuai berbagai komentar dan interpretasi politik dari berbagai kalangan.
Anies mengunggah foto tersebut ke berbagai akun media sosial, termasuk Facebook dan Twitter. Foto itu memperlihatkan Anies dengan kemeja putih dan sarung yang sedang serius membaca buku How Democracies Die.

Di latar belakang foto terdapat lemari dengan buku dan sejumlah ornamen, meja panjang dengan sejumlah foto dan lukisan kaligrafi di dinding berwarna putih.
Anies mengunggah foto tersebut ke akun Facebook-nya dengan menunjukkan kalimat selamat datang kepada pengguna internet. Selamat pagi semuanya. Nikmati Minggu pagi, ”tulis Anies.

Ditemukan lebih dari sepuluh ribu orang mengomentari postingan Anies. Sedangkan 3.500 pengguna internet membagikan unggahan tersebut hingga Senin pagi (23.11). Unggahan Anies di Twitter memicu trending topic bertajuk ‘How Democracies Die’.

How Democracies Die adalah buku yang membahas tentang dinamika politik dalam negeri pada pemilihan presiden AS 2016, serta dinamika politik selama masa jabatan Presiden Donald Trump.

Dalam buku ini penulis mengenang ancaman kematian demokrasi dengan melihat kasus-kasus di sejumlah negara. Kematian demokrasi dapat ditelusuri kembali ke pemilihan pemimpin otoriter yang, antara lain, mentolerir dan menuntut kekerasan, menolak aturan permainan demokrasi, siap untuk membatasi kebebasan sipil dan media serta menyangkal legitimasi lawan mereka.

Pengamat politik Universitas Andalas Asrinaldi menafsirkan unggahan Anies sebagai sindiran politik terhadap situasi politik di Indonesia saat ini.

“Kalau itu pesan yang Anies ingin ambil, saya tahu itu isyarat bahwa kebangkitan kekuasaan, penguasa kita dengan masalah populisme dan sebagainya, tapi setelah menjabat mereka akan dibungkam, kebebasan tidak ada. Pesan tersebut kemungkinan merupakan sindiran simbolis bagi aparat, “kata Asrinaldi kepada wartawan, Ahad (22/11).

Anies belum lama ini mengunggah foto tersebut menjadi sorotan hubungannya dengan pemerintah pusat karena gagal mencegah keramaian Rizieq Shihab di beberapa tempat di Jakarta. Baru-baru ini, penonton mendeklarasikan cluster transmisi Covid-19.

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu diminta polisi untuk mengklarifikasi kegiatan yang melanggar protokol kesehatan.

Asrinaldi menilai sikap pemerintah pusat dalam menanggapi kebijakan Anies pasca kepulangan Rizieq ke Indonesia dari Arab Saudi terlalu dibesar-besarkan. Menurutnya, pemerintah pusat seperti ketakutan Anies mendapat dukungan untuk mencalonkan diri sebagai presiden pada pemilihan presiden 2024 mendatang.

Namun, kata Asrinaldi, unggahan Anies tidak serta merta ditujukan kepada Presiden Jokowi sebagai pemimpin. Satir politik juga dapat menarik kelompok oligarki yang telah menyusup ke pemerintah.

“Kita tahu bahwa kekuasaan pemerintah kita ada oligarkinya, tidak hanya Jokowi. Sehingga pesan langsungnya kepada oligarki-oligarki,” katanya.

Sementara itu, salah seorang anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PDIP Gembong Warsono meminta Anies lebih fokus menangani pandemi dan mengantisipasi banjir ketimbang mengunggah foto dirinya bertuliskan ‘How Democracies Die’ yang secara politis ditafsirkan oleh sejumlah kelompok.

“Saya kira lebih baik gubernur fokus menangani Covid-19 yang posisinya meningkat, dan antisipasi banjir saat Jakarta mulai hujan,” katanya.

Gilbert Simanjuntak, anggota DPRD DKI dari Fraksi PDIP, mengatakan Gubernur Anies sindir diri sendiri saat membaca buku berjudul How Democracies Die.
Menurutnya, demokrasi akan mati oleh segelintir orang yang terlalu berkuasa, seperti dibacakan Anies.

“Siapa yang mengejek? Saya kira lebih tepat. Demokrasi dimatikan oleh segelintir orang yang terlalu berkuasa dari isi buku yang dibacanya,” kata Gilbert .
Gilbert mengatakan, Anies harus fokus memenuhi janji Pilkada DKI Jakarta 2017, yaitu sejahterakan rakyat, bukan kelompok tertentu.

Dia menolak menyebutkan secara spesifik terkait kelompok tertentu yang ia maksud tengah disejahterakan oleh Anies.
“Kamu sudah tahu sebenarnya, kelompok yang menjadi pendukungnya dulu. Sekarang dia seharusnya milik publik,” kata Gilbert.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *