Total Dana Pinjaman Orang Indonesia ke Pinjol Tembus Rp 100 Triliun

Pinjaman peer-to-peer (P2P) untuk Fintech atau pinjaman online (Pinjol) tersebar luas di tengah pandemi virus corona (COVID-19). Padahal, pemerintah mencatat total dana yang disalurkan melalui pinjaman pada September 2020 mencapai Rp. 100 triliun.
Menurut Kementerian Perekonomian, angka ini meningkat 113% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

“Dari sisi penyaluran kredit, penyaluran kumulatif peer-to-peer lending telah mencapai lebih dari 100 triliun hingga September 2020, meningkat 113% dibanding tahun sebelumnya (dibandingkan September 2019),” kata Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto. start virtual Indonesia Fintech Society (IFSoc.), Senin (9/11/2020).

BACA JUGA  PSBB Transisi, Pekerja Yang Dirumahkan Akan Kembali Bekerja

Sebagian besar peminjam atau pemberi pinjaman dalam layanan pinjaman adalah kaum muda berusia 19 hingga 34 tahun.
Selain pembiayaan pinjaman nominal besar, Indonesia memiliki jumlah startup fintech terbesar kedua di ASEAN setelah Singapura.

“Di tahun 2020 ini kita punya startup finetch terbesar. Kita lihat Singapura dengan 39% dari total fintech di ASEAN, Indonesia 20%, Malaysia 15% dan Thailand 10%. Di sektor fintech, sektor yang paling dinamis dan kompetitif itu menunjukkan hadirnya berbagai Unicorn, yaitu perusahaan lebih dari $ 1 miliar dan decacorn lebih dari $ 10 miliar, “kata Airlangga.

BACA JUGA  BLT Subsidi Gaji Gelombang 2 Akan Disalurkan Awal November 2020

Secara keseluruhan, Google dan Temasek mencatat transaksi melalui fintech di ASEAN yang mencapai hingga $ 40 miliar pada 2019, dengan perkiraan pertumbuhan tahunan hampir 50%.

Di Indonesia, Airlangga memprediksikan bahwa nilai ekonomi digital Indonesia yang salah satunya akan dicapai melalui fintech deal pada tahun 2025 akan mencapai $ 130 miliar atau sekitar RP. 1.831 triliun (kurs Rp.14.090).

“Pada 2025, jumlah perusahaan fintech akan bertambah lebih dari $ 100 miliar, terutama di bidang pembayaran digital, e-commerce, transportasi online, dan distribusi barang. Ekosistem tersebut diharapkan terus berkembang di seluruh dunia. mendukung inklusi keuangan dalam segmen di mana hal ini terjadi. ” Selama ini dia belum memiliki akses keuangan di Indonesia, ”ujarnya.

BACA JUGA  Harga Emas Aneka Tambang Turun Rp 1000/gram Di Awal Pekan

OJK ingin membuat aturan duet bank fintech

Berdasarkan catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), terdapat 286 fintech di Indonesia, 55% di antaranya merupakan pinjaman. Namun, baru 124 debitur yang terdaftar dan 33 sudah memiliki izin OJK.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua Komite Komisioner OJK Nurhaida menegaskan pihaknya tidak ingin kehadiran fintech menunda atau mengganggu layanan keuangan yang sudah lama berdiri, khususnya perbankan.

“Kami juga ingin agar IKD (Inovasi Keuangan Digital) yang berkembang tidak mengganggu sektor keuangan yang ada. Kami banyak mendengar sekarang bahwa antara IKD atau fintech dan perbankan ada yang mengatakan bahwa ini saling mengganggu. Tapi nyatanya mungkin saja tidak. “katanya.

BACA JUGA  Gratis, Segera Ganti Kartu ATM Chip di Semua Cabang BRI

Karena itu, pihaknya akan menggalakkan kerja sama fintech dengan perbankan. Hal ini dilakukan agar fintech tidak mengubah keberadaan bank.

“Kalau dilihat secara inheren ada kelebihannya, maka ada juga kelebihan dari lembaga jasa keuangan yang sudah ada, seperti perbankan. Mereka justru memungkinkan adanya kerjasama,” kata Nurhaida.

OJK saat ini sedang menyusun regulasi kerjasama antara fintech dan perbankan agar kerjasama dapat lebih cepat terlaksana.

“Sekarang kita mungkin melihat regulasi yang membuat kolaborasi ini berjalan. Sekarang sering dikatakan bahwa regulasi perbankan begitu ketat sedangkan fintech agak ringan. Jadi ada alasan kenapa begitu. . ” Harus ada kolaborasi atau metode atau pengaturan pengembangan yang bisa mendukung kolaborasi tersebut, ”ujarnya.

BACA JUGA  Mulai 1 Februari Pulsa, Kartu Perdana dan Token Listrik Dikenai Pajak

Leave a Comment