Rendahnya Kesadaran Masyarakat Indonesia Untuk Jaga Jarak

Tidak mudah untuk membuat masyarakat mengetahui cara menghindari paparan Covid-19 dan memutus rantai penularan. Hal ini dikarenakan disiplin penerapan perilaku baru yang sesuai dengan protokol kesehatan belum sepenuhnya dilaksanakan secara serius.

Berdasarkan penilaian Satgas Covid-19 terhadap tiga perilaku paling penting atau 3M yang diharapkan yaitu memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan pakai sabun, ada kesadaran untuk menjaga jarak dan menghindari Kerumunan masih sepi.

Menurut data, kesadaran masyarakat untuk menjaga jarak adalah 72% pada April dan 74% pada September. Namun, angka tersebut masih di bawah rata-rata kesadaran masyarakat terhadap perubahan perilaku lainnya seperti mencuci tangan pakai sabun dan menggunakan masker.

BACA JUGA  Berikut Tahapan Pilkada Serentak 2020 Di 270 Daerah

Sebagai informasi: Kesadaran masyarakat tentang cuci tangan pakai sabun pada bulan April adalah 80%, kemudian 75%. Kesadaran penggunaan masker adalah 80% di bulan April, tetapi ditemukan meningkat menjadi 92% di bulan September.

“Hanya saja kemampuan kami untuk menghindari jarak dan keramaian selalu menjadi masalah,” kata Sonny B. Harmadi, Kepala Departemen Perubahan Perilaku Satgas Covid-19, dalam diskusi tentang “Sosialisasi Keyakinan”. , Aman dan kebal terhadap Covid-19. Praktiknya di Satgas Covid-19 Media Center, Graha BNPB, Jakarta, kemarin.

BACA JUGA  IMF Berikan Pinjaman US$1 M Untuk Angola Hadapi Covid-19

Ketua Satgas Penanganan Masalah Covid-19, Doni Monardo, terus mengingatkan masyarakat untuk melakukan 3M, termasuk menjaga jarak. Dia menegaskan, hanya dengan disiplin melakukan tiga perilaku utama diharapkan masyarakat tidak terpapar Covid-19 dan terhindar dari risiko yang terkait dengannya.

“Untuk menjaga kami tetap aman, kami mengikuti protokol kesehatan. Apa itu, yaitu memakai masker, menjaga jarak dan menghindari keramaian, dan sering mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir. Atau ketika tidak ada tempat yang nyaman untuk mencuci. tangan, bisa pakai hand sanitizer, ”ujarnya.

BACA JUGA  Politisi Senior Amin Rais Segera Umumkan Partai Barunya

Mantan Kopassus Danjen mengingatkan, Covid-19 adalah virus yang tidak terlihat tetapi efeknya bisa dirasakan. Bahkan angka kematian di seluruh dunia sudah mencapai lebih dari 1 juta orang. Mereka yang terkena, atau yang terkena Covid-19, telah menjangkau lebih dari 37 juta orang di seluruh dunia.

Negara yang terpapar virus ini telah menjangkau lebih dari 350.000 orang dan lebih dari 12.000 orang telah meninggal dunia. “Angka yang sangat besar. Padahal angka kesembuhannya meningkat, artinya sudah ada sekitar 275.000 warga negara kita yang sudah sembuh dari bahaya Covid ini,” kata Doni.

BACA JUGA  Cek Info Lengkap, 5.178 Peserta CPNS 2019 Kemenag Lulus Seleksi

Namun, Doni juga menegaskan kepatuhan terhadap protokol kesehatan saja tidak cukup, harus dianugerahi iman. “Ya itu saja tidak cukup, perlu ditambah dengan penguatan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Subhanahu Wataala, Tuhan Yang Maha Esa. Kita harus bersabar, harus bersabar menghadapi musibah ini. Dengan kesabaran. semoga kita bisa mengendalikan diri, ”ujarnya.

Dia kemudian mengatakan perjuangan untuk kepatuhan protokol kesehatan belum sebanding dengan perjuangan, pengorbanan dan penderitaan para dokter yang merawat pasien di rumah sakit untuk merawat pasien, terlepas dari apakah mereka adalah pasien Covid dan non-Covid. .

BACA JUGA  Beberapa Fakta Tentang GeNose, Alat Pendeteksi Covid-19 Buatan UGM

“Karena ternyata banyak juga dokter umum yang meninggal saat merawat pasien yang bukan pasien Covid, ternyata pasien tersebut tidak ada gejala OTG.” Orang tanpa gejala pun bisa menulari orang lain, termasuk dokter, ”kata Doni.

Selain itu, dia mengenang pentingnya meningkatkan imunitas tubuh agar tidak terpapar Covid-19. Hal itu bisa dicapai melalui olahraga teratur, istirahat cukup, tidak begadang, makan makanan bervitamin, tidak mudah panik, dan membahagiakan hati.

“Nah, jika metode komitmen kita menjaga keselamatan melalui kepatuhan protokol kesehatan juga berkomitmen membangun amanah dan taqwa kepada Allah Subhanahu Wataala dan meningkatkan kekebalan tubuh kita, kita semua akan selamat dari musibah akibat Covid ini,” ucapnya. Doni.

BACA JUGA  Anang Ungkap Kondisi Terkini Ashanty Kritis Akibat Covid-19

Sebagai informasi, hingga kemarin kasus Covid-19 terus meningkat. Hingga 16 Oktober 2020, saat ini terdapat 157.672 tersangka Covid-19. Jumlah tersebut naik menjadi 154.926 orang dibandingkan hari sebelumnya pada 15 Oktober 2020. Hal itu dilakukan setelah jumlah kasus yang dicurigai meningkat sebanyak 2.746 orang.

Saat ini sudah ada 4.301 kasus Covid-19, yang mengakibatkan akumulasi sebanyak 353.461 orang. Jumlah tersebut merupakan hasil penelusuran melalui pemeriksaan terhadap 41.541 sampel menggunakan metode real time polymerase chain reaction (PCR) dan metode rapid molecular test (TCM).

BACA JUGA  Pengacara Pastikan Habib Rizieq akan Diperiksa Polda Metro Hari Ini

Selain itu, kasus yang pulih dari Covid-19 hari ini dilaporkan meningkat 3.883 orang, sehingga total 277.544 orang pulih. Sementara itu, jumlah korban meninggal kembali meningkat 79 menjadi 12.347.

Masyarakat sebagai ujung tombak

Sonny B. Harmadi, Kepala Divisi Perubahan Perilaku Satgas Covid-19, mengatakan ujung tombak untuk memutus rantai penularan Covid-19 adalah masyarakat. Komunitas tersebut menjadi agen pengubah perilaku yang berperan dalam memutus rantai penularan Covid-19.

“Jadi di satgas ini ada dua area ya yang terdepan terganggunya rantai transmisi, termasuk area komunikasi publik. Di area perubahan perilaku, kami memanfaatkan masyarakat sebagai duta, menjadi agen perubahan perilaku terlibat. terputusnya rantai penularan Covid-19 “, kata Sonny dalam diskusi tentang” sosialisasi keyakinan, aman dan kebal Covid-19 “secara virtual di media. Pusat Satgas Covid-19, Graha BNPB, Jakarta, kemarin.

BACA JUGA  Pakai Masker Dengan Benar Bisa Putus Mata Rantai Penyebaran Corona

Kunci berikutnya adalah perawatan kesehatan dengan 3T, testing, tracing, treating atau treatment, yang memutus rantai dengan melacak siapa yang positif. “Jadi kalau kita mengubah perilaku 3M, pakai masker, jaga jarak dan cuci tangan pakai sabun, kita berusaha memutus rantai penularan Covid-19,” tambah Sonny.

Sonny juga mengatakan dengan mengikuti protokol kesehatan diharapkan masyarakat tidak lagi tertular Covid-19. Dalam pandangannya, selama tujuh bulan menghadapi COVID-19, telah terjadi peningkatan respon terhadap kesadaran masyarakat akan kepatuhan terhadap protokol kesehatan.

BACA JUGA  Alasan Tertinggi Mengapa Masyarakat Tak Patuhi Protokol Kesehatan

Leave a Comment