Vitamin D Dapat Mencegah Kerusakan Organ Pasien COVID-19

Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa vitamin D dapat bekerja secara ajaib pada pasien virus corona atau COVID-19, baik dalam mengobati gejala maupun mencegah infeksi.
Dari pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit, 20 mengembangkan sindrom gangguan pernapasan akut (ARDS) dan membutuhkan perawatan intensif. ARDS adalah suatu kondisi di mana cairan menumpuk di paru-paru. Ini telah dikaitkan dengan badai sitokin atau badai bradikinin.

Dilansir Times of India pada Senin 12 Oktober 2020, sitokin merupakan protein yang mengirimkan sinyal ke sel dan mengontrol sistem kekebalan tubuh.

BACA JUGA  Manfaat Herbal Jahe Berdasarkan Sains yang Perlu Anda Ketahui

Bradykinin sekarang menjadi protein yang menyebabkan peradangan. Ekspresi berlebih dari protein ini, yang dikenal sebagai badai sitokin atau badai bradikinin, dapat menyebabkan banyak organ gagal berfungsi. Bagaimana vitamin D membantu?

Vitamin D bertindak sebagai agen imunomodulator yang dapat melindungi dari konsekuensi serius ini pada pasien COVID-19. Dengan cara ini, vitamin D membantu mencegah kegagalan banyak organ.
Vitamin D berperan penting dalam aktivasi dan fungsi sistem kekebalan tubuh. Vitamin D menghambat fungsi sel T helper tipe 1 (Th1), yang terlibat dalam inflamasi yang dimediasi sel.
Hasil studi menunjukkan bahwa bentuk aktif vitamin D terkait langsung dengan penghambatan dua sitokin, interferon gamma dan IL-2, yang dapat menyebabkan kegagalan organ.

BACA JUGA  Libur Natal dan Tahun Baru, Bali Wajibkan Pengunjung Tes PCR-Antigen

Lindungi dari kerusakan paru-paru

Selama infeksi virus, vitamin D yang tidak aktif diubah menjadi bentuk aktifnya oleh sel-sel di alveoli, kantung udara kecil di paru-paru kita, menyebabkan peningkatan ekspresi senyawa lain yang disebut cathelicidin. Cathelicidin telah terbukti mengurangi cedera paru-paru yang disebabkan oleh hiperoksia atau oksigenasi yang berlebihan.

Mencegah penyakit ginjal pada penderita diabetes

Studi pada pasien dengan penyakit ginjal dan pada tikus dengan diabetes menunjukkan peningkatan ekspresi angiotensin converting enzyme 2 (ACE2). Diketahui bahwa ACE2 memfasilitasi masuknya virus SARS-CoV-2 ke dalam sel inang.

BACA JUGA  Ini Penyebab Kasus Corona Di Indonesia Semakin Meningkat

Sebuah studi tahun 2018 menemukan bahwa suplemen vitamin D dapat menghambat ekspresi ACE2 di ginjal. Dengan demikian, vitamin D dapat menurunkan ekspresi ACE2 pada sel tubulus ginjal, sehingga mencegah virus memasuki sel dan melindungi ginjal penderita diabetes.

Mencegah ARDS dan Cedera Jantung

Angiotensin II (Ang II) adalah hormon alami yang meningkatkan tekanan darah. ACE2 membantu memecah Ang II dan dengan demikian menurunkan nilainya.

Infeksi COVID-19 dapat menurunkan kadar ACE2 dan menyebabkan Ang II menumpuk secara berlebihan. Nilai Ang II yang tinggi dapat menyebabkan ARDS dan cedera jantung. Renin, suatu protein yang dikeluarkan oleh ginjal, dapat meningkatkan akumulasi Ang II.

BACA JUGA  Hindari Beberapa Makanan Ini Agar Anda Cepat Pulih Dari Flu

Sebuah studi tahun 2015 menemukan bahwa tikus yang kekurangan reseptor vitamin D mengalami peningkatan kadar renin dan Ang II. Dengan demikian, suplemen vitamin D dapat mencegah aktivitas inflamasi Ang II dengan menekan pelepasan renin pada pasien COVID-19 dan mengurangi risiko ARDS dan masalah jantung.

Artinya vitamin D dapat berperan dalam meningkatkan risiko perkembangan, kematian, dan keparahan COVID-19.

Saat ini jumlah kasus COVID-19 di Indonesia masih tinggi. Untuk melakukan ini, jangan lupa untuk mematuhi protokol kesehatan dan lakukan 3M: kenakan masker, jaga jarak dan jauh dari keramaian, dan cuci tangan dengan sabun.

BACA JUGA  Lima Bahan Alami Ini Bisa Tuntaskan Masalah Ketombe Anda

Leave a Comment