Mengapa Orang Obesitas/Gemuk Lebih Beresiko Terkena Diabetes

Orang yang kelebihan obesitas atau kelebihan berat badan memiliki risiko lebih tinggi terkena diabetes, terutama diabetes tipe 2. Diabetes adalah penyakit kronis yang ditandai dengan kadar gula darah yang tinggi.

Prevalensi obesitas yang semakin meningkat telah menarik perhatian banyak orang. Misalnya, di Amerika Serikat, sekitar dua pertiga populasi orang dewasa kelebihan berat badan. Tren yang sama terjadi di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Riskesdas 2018 mencatat prevalensi obesitas sebesar 21,8 persen. Angka itu terus meningkat dari 14,8 persen pada 2013 dan 10,5 persen pada 2007.

BACA JUGA  Manfaat Diet Keto Ampuh Lawan Diabetes, Kanker hingga Alzheimer

Diketahui bahwa obesitas sendiri merupakan pemicu beberapa penyakit kronis. Salah satu yang paling umum adalah diabetes. Pada awal abad ini, diperkirakan 171 juta orang di seluruh dunia menderita diabetes tipe 2. Angka tersebut diproyeksikan meningkat menjadi 360 juta pada tahun 2030, sejalan dengan meningkatnya prevalensi obesitas di seluruh dunia.

Resistensi insulin adalah salah satu faktor risiko utama untuk mengembangkan diabetes. Resistensi insulin adalah suatu kondisi di mana sel-sel tubuh tidak dapat menggunakan gula darah dengan baik akibat terganggunya respon seluler tubuh terhadap insulin.

BACA JUGA  Kelompok Prioritas Utama Yang Akan Mendapatkan Vaksin Covid-19

Para ilmuwan telah lama mengetahui bahwa obesitas memainkan peran kunci dalam perkembangan diabetes tipe 2. Menurut artikel Mechanism Linking Diabetes Mellitus and Obesity di situs NCBI, jumlah asam lemak tak teresterifikasi, gliserol, sitokin, penanda proinflamasi, dan zat lain yang terlibat dalam pengembangan resistensi insulin pada orang yang kelebihan berat badan telah meningkat.

Diketahui bahwa resistensi insulin mencegah tubuh mengubah glukosa menjadi energi. Siapapun yang kelebihan berat badan memiliki resistensi insulin.

BACA JUGA  Empat Kebiasaan Yang Akan Membuat Perut Buncit

Sejumlah peneliti Universitas Harvard juga telah melakukan penelitian untuk menemukan kaitan antara obesitas dan diabetes. Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Science tersebut menemukan bahwa obesitas menyebabkan stres pada sistem membran sel yang disebut retikulum endoplasma. Kondisi ini dapat menekan sinyal reseptor insulin yang menyebabkan resistensi.

“Retikulum endoplasma [ER] adalah motor dari sel yang bertanggung jawab untuk produksi protein dan lemak,” kata penulis studi Gokhan Hitamisligil mengutip Medicinenet.

Jika Anda kelebihan berat badan, terlalu banyak nutrisi yang masuk ke dalam tubuh. Nutrisi ini perlu diolah, disimpan dan digunakan. Dalam kondisi seperti itu, ruang gawat darurat kelebihan beban dan mengirimkan sinyal marabahaya. Sinyal marabahaya memerintahkan sel untuk mematikan reseptor insulin.

BACA JUGA  9 Cara Yang Efektif Merawat Kulit Kering

“Dalam kasus obesitas, memicu penyakit kronis jangka panjang,” kata Hotamisligil.

Selain itu, stres pada ER juga memicu terjadinya peradangan pada sel tubuh lainnya. Maka tidak heran jika Hotamisligil diabetes juga berperan dalam penyakit kardiovaskuler akibat peradangan yang dipicu oleh ER.

Beberapa alasan lain juga diketahui berkontribusi pada peningkatan risiko diabetes pada orang gemuk. Mengutip dari sisi diabetes, beberapa penelitian menunjukkan bahwa lemak perut dapat menyebabkan sel-sel tubuh melepaskan zat kimia peradangan yang dapat membuat tubuh kurang sensitif terhadap insulin.

BACA JUGA  Buah Pir Dapat Cegah Kanker hingga Tingkatkan Sistem Imun

Selain itu, obesitas juga memicu perubahan metabolisme tubuh. Perubahan ini menyebabkan jaringan adiposa melepaskan molekul lemak ke dalam darah, yang pada gilirannya memengaruhi respons sel terhadap insulin dan membuat orang gemuk rentan terhadap diabetes.

Leave a Comment