Ketahui Sebab Masker Scuba-Buff Yang Penggunaannya Dilarang di KRL

Ketahui Sebab Masker Scuba-Buff Yang Penggunaannya Dilarang di KRL

PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) akan mewajibkan calon penumpang KRL mengenakan masker kain tiga lapis atau masker medis mulai Senin 21 September. Dalam keterangannya, PT tidak menyebut KCI scuba atau buff mask sebagai jenis masker yang bisa digunakan saat menaiki KRL.

“Mulai Senin (21/9), seluruh pengguna KCI wajib memakai masker yang terbukti efektif mencegah tetesan atau cairan masuk ke mulut dan hidung,” kata Anne Purba, VP Corporate Communications PT KCI, dalam keterangannya. Jumat (18 September 2020).

Mengenakan masker terbukti menjadi cara paling efektif untuk mencegah penularan virus corona. Mengenakan masker di tempat umum juga merupakan cara yang sangat baik untuk mencegah penularan COVID-19 dari orang ke orang.

Jika persediaan masker kesehatan seperti masker bedah dan masker N95 semakin menipis, disarankan Anda beralih ke penggunaan masker kain sebagai langkah pencegahan korona. Masker bedah dan masker N95 lebih ditujukan untuk staf medis yang menangani pasien COVID-19.

Meski penggunaannya agak disarankan, ternyata tidak semua jenis masker kain efektif menghalau tetesan dan mencegah terpapar virus corona. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa masker selam tidak terlalu efektif menekan penularan virus corona.

Berikut ini sejumlah fakta tentang masker scuba yang dirangkum

Kerugian dari masker scuba
Masker kain yang direkomendasikan adalah masker tiga lapis. Dalam pernyataan PT KCI, masker scuba dan buff hanya efektif 5 persen mencegah risiko terpapar virus.
Mengingat hal tersebut, juru bicara Satgas COVID-19 Prof.Wiku Adisasmito berpesan kepada pengguna KRL agar tidak menggunakan masker selam karena terlalu tipis dan dikhawatirkan tidak akan menggunakan tetesan penyebab COVID-19. bisa menyaring.

“Masker scuba atau buff ini merupakan masker lapis tunggal dan terlalu tipis sehingga dapat menembus daripada menyaring. Oleh karena itu disarankan untuk menggunakan masker yang berkualitas,” kata Prof. Wiku.

Kemampuan filtrasi masker scuba yang rendah
Spesialis paru-paru Rumah Sakit Persahabatan Dr. Erlina Burhan MSc, SpP mengatakan bahwa kemampuan filtrasi masker scuba sangat rendah, sehingga tidak memberikan perlindungan yang memadai kepada penggunanya. Pori-pori masker selam juga sangat lebar, sama seperti saat tidak memakai masker.

“Masker scuba sebaiknya tidak digunakan karena kapasitas filtrasinya sangat rendah, hanya 0 sampai 5 persen. Bahan ini sangat-sangat elastis dan hanya memiliki satu lapisan, sehingga tidak terlindungi,” kata Dr. Erlina.

Anjuran untuk tidak memakai masker scuba memunculkan gagasan melapisinya dengan tisu agar lebih efektif menyaring virus korona. Namun, laporan itu terbagi.
Menurut peneliti dan pakar Satgas COVID-19 Jawa Tengah, Dr. Budi Laksono, MHSc, masker selam masih efektif digunakan dua kali dan ditutup tisu.

“Menurut saya (masker scuba berlapis kain) adalah jalan tengah agar penyelaman tetap sehat untuk digunakan kan?” Kata dr Budi.
Namun, tidak semua ahli setuju. Ahli paru Rumah Sakit Persahabatan, Dr. Erlina Burhan, SpP (K), menekankan pada sifat kain yang mudah basah sehingga tidak efektif. Belum lagi struktur scuba yang sangat elastis sehingga kain dapat meluncur dengan mudah dan kemudian jatuh.

“Jadi tidak ada gunanya juga,” kata Dr. Erlina.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *