Waspadai Apabila Anak Lemas dan Tak Konsentrasi Saat Beraktifitas

Anda perlu waspada saat melihat anak terlihat lemah, putus asa, dan tidak fokus. Pasalnya, tanda-tanda ini bisa jadi merupakan gejala si kecil Anda yang kekurangan mikronutrien (MND). Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan, serta kesehatan jangka panjang, baik fisik maupun mental.

“Sebagai orang tua kita harus selalu memperhatikan anak. Tidak hanya fisik, tapi juga mental dan kebiasaannya. Misalnya anak kurang konsentrasi, lemas, kelelahan dan kurang semangat. Ini bisa jadi pertanda tersedia zat gizi mikro. tidak terpenuhi, “katanya. Corporate Nutritionist Nestle Indonesia Eka Herdiana dalam konferensi pers virtual, Rabu (16/9).

Berdasarkan data Global Report, sekitar 2 miliar penduduk dunia mengalami defisiensi mikronutrien. Bahkan, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebut zat gizi mikro penting untuk kesehatan dan pertumbuhan tubuh. Mikronutrien termasuk vitamin dan mineral seperti seng, vitamin A, C dan D, zat besi dan kalsium.

“Di Indonesia kondisinya memprihatinkan. Hingga 50% penduduk mengkonsumsi lebih sedikit zat besi, 60% lebih sedikit seng, 80% kalsium, 70% vitamin A dan C, dan 40% vitamin D. Di Indonesia, sinar matahari melimpah, tetapi masih kurang. Vitamin D dan ini bisa berdampak serius bagi keluarga Indonesia, ”jelas Eka.

Sayangnya, kondisi ini seringkali tidak disadari oleh para orang tua di Indonesia. Pengamat kesehatan Lula Kamal mengungkapkan bahwa kurangnya pengetahuan tentang pentingnya zat gizi mikro dan gejala yang tidak memadai bisa menjadi salah satu penyebab kondisi ini. Faktanya, kekurangan mikronutrien dapat menyebabkan beberapa masalah kesehatan yang mengkhawatirkan.

“Gejalanya kurang terkontaminasi. Kurang fokus akibat kelelahan. Padahal, zat besi kurang,” kata Lula.

Karena itu, Lula berpesan agar para orang tua memperhatikan anak dari berbagai sudut. Tidak hanya fisik tetapi juga perhatian mental yang penting. Di sisi lain, orang tua perlu bekerja sama dengan guru di sekolah untuk memantau kondisi anak-anaknya. Pasalnya, gejala defisiensi mikronutrien bisa muncul saat anak-anak bersekolah.

“Mikronutriennya kurang, dia lamban dan tidak fokus. Ibunya tidak tahu. Karena bisa saja terjadi di sekolah. Jadi penting untuk berkonsultasi dengan guru. Orang tua perlu lebih hati-hati,” pungkas Lula.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *