Pertumbuhan Kredit Semakin Rendah Karena Pandemi Covid-19

Pandemi COVID-19 telah melemahkan pertumbuhan kredit bank. Bank Indonesia (BI) membukukan pertumbuhan kredit sebesar 1,04% pada Agustus 2020.
Namun dana pihak ketiga (DPK) mencapai angka dua digit, yakni 11,46%. Kemudian Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan intermediasi perbankan masih membaik.

Hal tersebut sejalan dengan prospek pemulihan ekonomi domestik. Mengingat kredit melemah, apakah ada perbaikan?

Perry mengatakan, beberapa sektor mengalami lonjakan pertumbuhan kredit, yakni pertanian, pertambangan, dan transportasi. Saat ini, peran intermediasi sektor keuangan masih lemah karena terbatasnya pertumbuhan kredit.

“Sejalan dengan permintaan domestik yang belum kuat akibat kinerja korporasi yang buruk dan kehati-hatian perbankan akibat pandemi COVID-19 yang sedang berlangsung,” kata Perry dalam jumpa pers virtual, Kamis (17 September 2020).

Selain itu, total restrukturisasi perkreditan bank telah mencapai 18,64% dari total penyaluran kredit hingga Agustus 2020, dibantu dengan terjaganya likuiditas.
Perkembangan tersebut, serta percepatan program National Economic Recovery (PEN), termasuk penguatan penjaminan pinjaman pemerintah, harus memperkuat peran perantara perbankan.

“Bank Indonesia akan melanjutkan kebijakan makroprudensial yang akomodatif untuk mendorong penyaluran kredit dan mempercepat pemulihan ekonomi,” ujarnya.
Pertumbuhan mata uang beredar (UYD) pada Agustus 2020 turun dari 6,17% year over year pada Juli 2020 menjadi 5,82% year over year, mencapai 762,1 triliun rupee.

Sejalan dengan itu, pertumbuhan nilai transaksi nontunai dengan ATM, kartu debit, kartu kredit dan e-money (UE) juga mencatat penurunan sebesar 13,94% (year-on-year) pada Juli 2020.

Namun, nilai dan volume transaksi meningkat karena adanya pergeseran preferensi masyarakat terhadap penggunaan alat digital. Pertumbuhan nilai transaksi UE tetap kuat di 24,42% YoY pada Juli 2020, sementara volume perbankan digital juga tumbuh kuat pada 38,81% YoY pada Juli 2020.

“Bank Indonesia memprediksi berbagai transaksi sistem pembayaran akan kembali meningkat sejalan dengan prospek pemulihan ekonomi dan perkembangan positif berbagai inovasi dalam aktivitas ekonomi dan keuangan digital,” kata Perry.

Meningkatnya kolaborasi antara pelaku ekonomi dan keuangan digital melalui penggunaan API (Application Programming Interfaces) baik oleh bank maupun non-bank menunjukkan respon yang sangat baik dari industri terhadap upaya Bank Indonesia untuk melaksanakan transformasi digital integratif sebagai bagian dari UE akan menerapkan Cetak Biru Sistem Pembayaran Indonesia 2025 (BSPI), termasuk memperkuat digitalisasi UMKM.

Ke depan, Bank Indonesia akan semakin mempercepat pelaksanaan BSPI dengan meningkatkan infrastruktur, regulasi, dan mekanisme insentif terkait dalam kerangka kebijakan sistem pembayaran, termasuk lebih lanjut mendukung efektivitas berbagai program pemerintah untuk memulihkan perekonomian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *