Lindungi Eksploitasi ABK, Indonesia Dan China Akan Sepakati Perjanjian

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan Indonesia dan China siap menandatangani perjanjian bantuan hukum timbal balik terkait maraknya penyalahgunaan ABK yang bekerja di kapal China.
“China siap bekerjasama dengan MLA dll,” kata Retno dalam jumpa pers virtual, Kamis (17/9).

Selain itu, Retno mengumumkan sisa ABK Indonesia yang terdampar akan segera dikembalikan ke Indonesia.

Indonesia, kata Retno, menyoroti masalah penyelesaian gaji ABK Indonesia yang belum dibayarkan oleh perusahaan yang mempekerjakan mereka. Retno juga menyatakan, China akan menetapkan standar bagi setiap pemilik kapal di negaranya tentang cara menangani jenazah awak kapal.

Semua pertanyaan itu diungkapkannya usai pelaksanaan forum komunikasi yang berlangsung Rabu (16/9) kemarin secara virtual antara beberapa pihak Indonesia dan China.
Pemberitahuan ini memiliki dua tujuan. Yang pertama adalah menyelesaikan masalah saat ini dan yang kedua adalah mencegah hal serupa terjadi di masa depan.

Pada pertemuan tersebut, Indonesia diwakili oleh Kementerian Luar Negeri, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, Kementerian Tenaga Kerja, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kejaksaan Agung dan Polri.

Sedangkan Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pertanian dan Kementerian Kepegawaian mengirimkan pihak China.
Setelah pertemuan tersebut, Kementerian Luar Negeri RI akan menggelar pertemuan lanjutan dengan kementerian dan lembaga terkait besok (18/9).

Kasus penganiayaan awak kapal Indonesia yang bekerja di kapal penangkap ikan Tiongkok telah terjadi berkali-kali. Pada awal Juli 2020, seorang awak kapal warga negara Indonesia meninggal karena sakit dan perlakuan tidak manusiawi di tempat kerjanya.

Manajer Fishing Center, Laode Hardiani, dalam pembebasannya menyatakan pihaknya menerima pengaduan pada 8 Juli 2020 dan menyebutkan nama almarhum ABK Indonesia Yadi.
Lalu, pada 25 Agustus 2020, kejadian serupa terjadi. Video empat awak Indonesia yang dilecehkan di sebuah kapal Tiongkok dibagikan di media sosial.

Keempat WNI yang berada di kapal tersebut dikabarkan meminta bantuan.
Dalam laporan tersebut terungkap nama keempat ABK Indonesia tersebut, yakni Sukarto, Irgi Putra, Putra A. Napitupulu, dan Galih Ginanjar.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa empat ABK warga negara Indonesia sering dianiaya saat bekerja, misalnya karena tidak dibayar dan disiksa secara fisik.
Selain itu, jam kerja mereka juga digambarkan tidak manusiawi. Harus bekerja 20 jam sehari berarti makanan tidak cukup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *