Ahli Psikolog Forensik Tanggapi Peristiwa Penyerangan Syekh Ali

Pakar psikologi forensik Reza Indragiri Amriel mencatat bahwa penyerangan terhadap ulama, yang terakhir adalah penusukan Syekh Ali Jaber, bukanlah faktor alamiah.

Pelaku tusukan pisau, yaitu Alfin Andria bin M Rudi, adalah orang gila atau tidak waras, diduga karena diprogram. Artinya orang gila bisa dibimbing. “Apa yang diprogram sebatas perilakunya. Sehingga dia berperilaku sesuai keinginan programmer. Sedangkan kesehatan mentalnya (berpikir) tetap terganggu,” kata Reza, Minggu (13/9/2020).

Namun, untuk mengetahui seberapa sukses program ini, perlu dilakukan lebih banyak penelitian.”Mudah-mudahan si pelaku bukan preman atau jeger pasar yang sedang magang. Uji coba melumpuhkan warga yang tidak pakai masker,” sambung Reza.

BACA JUGA  Pemerintah Larang Perayaan Natal dan Tahun Baru di Tempat Umum

Menurutnya, jika benar pelaku tusuk pisau adalah penyandang gangguan jiwa, maka kebenarannya harus diverifikasi. Luasnya gangguan kesehatan mental seseorang, termasuk yang menerima pengampunan hukum. “Pertanyaan selanjutnya adalah di mana pihak yang bertanggung jawab untuk melindungi orang-orang yang menderita penyakit mental dan dengan demikian membahayakan orang lain. pihak ini juga bisa dituntut,” katanya.

Reza juga mempertanyakan pelaku penyerangan ulama terhadap tokoh agama tadi. “Hakim bisa memerintahkan pelaku gangguan jiwa tersebut dirawat di rumah sakit jiwa. Namun, katanya, banyak kasus yang dihentikan di tingkat penyidikan. Jadi perintah itu tidak pernah ada,” ujarnya.

BACA JUGA  Tersangka Penikaman Syekh Ali Jaber Terancam Hukuman Mati

Diketahui, Syekh Ali Jaber ditikam oleh orang tak dikenal siang tadi saat memberi ceramah di Masjid Fallahudin, Bandar Lampung. Dalam penyerangan tersebut, Ali ditusuk cukup dalam sehingga mendapat 10 jahitan. Pelaku tusuk pisau, Alfin Andria bin M Rudi, diduga mengalami gangguan jiwa dan masih dalam pemeriksaan polisi.

Leave a Comment