PLN Unkapkan Penurunan Tarif Tidak Pengaruhi Keuangan Perusahaan

Penurunan tarif listrik untuk pelanggan non subsidi berdampak pada pendapatan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN. Namun, PLN mengklaim hal itu tidak akan berdampak pada neraca perseroan.

Direktur Perdagangan dan Pelayanan Pelanggan PLN Bob Saril mengatakan potensi kerugian pendapatan dari penurunan tarif listrik tidak bersubsidi mencapai Rp 391 miliar pada akhir tahun. Menurut dia, penurunan penjualan tidak menjadi masalah karena perseroan juga melakukan efisiensi pada saat bersamaan.

Dampaknya terhadap potensi pendapatan 391 miliar rupiah. Itu pendapatan. Bagaimana kalau kita hemat? Kalau menghemat biaya tidak ada masalah dan ada juga kompensasi dari pemerintah, katanya, Jumat di Jakarta (4/9/2020).

Bob mengatakan melalui bauran energinya, perusahaan akan melakukan penghematan dengan menggunakan energi yang tidak mahal. Misalnya dengan pengadaan batu bara yang lebih murah. Selain itu, efisiensi perseroan terletak pada penggantian solar di daerah terpencil dengan penggunaan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

Artinya, biaya-biaya tersebut bisa ditekan. Tapi yang terpenting, dengan pengurangan ini, kita berharap konsumsi listrik bisa meningkat, ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Alam (ESDM) Arifin Tasrift menetapkan penyesuaian tarif tujuh kelompok pelanggan non subsidi periode Oktober hingga Desember 2020. Hal tersebut muncul dari surat Menteri Energi dan Sumber Daya Alam kepada Direktur Utama PT PLN (Persero) tertanggal 31 Agustus 2020.

Untuk pelanggan tegangan rendah, tarif ditetapkan sebesar Rp 1.444,70 per kWh atau turun Rp 22,5 per kWh dibandingkan periode sebelumnya. Untuk pelanggan tegangan menengah dan tegangan tinggi ditetapkan tarif serta perhitungan tarif listrik periode Juli hingga September 2020. Khusus untuk pelanggan rumah tangga 900 VA-RTM, tarif tidak mengalami kenaikan atau tetap pada Rp 1.352 / kWh.

Bob melanjutkan, saat ini konsumsi listrik rumah tangga meningkat 9-10% saat pandemi Covid-19. Meskipun sektor industri telah mulai berkembang, lonjakan tersebut belum kembali ke tingkat pandemi sebelum Covid-19.

Meski pertumbuhan sektor industri agak meningkat dibanding April dan Mei, kenaikannya belum mencapai Covid. Hal ini perlu kita dorong karena menunjukkan aktivitas ekonomi yang semakin membaik, ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *