Bahrain Tidak Akan Berdamai Dengan Israel Sebelum Palestina Merdeka

Pemerintah Bahrain mengatakan menolak mengikuti jejak Uni Emirat Arab (UEA) untuk menormalisasi hubungan dengan Israel kecuali ada jaminan bahwa Palestina akan merdeka.
Bahrain juga mengatakan akan menormalisasi hubungan jika Arab Saudi, yang diyakini sebagai pemimpin di Semenanjung Arab, menandatangani kesepakatan dengan Israel.

Sikap ini dilaporkan Middle East Monitor pada Rabu (2/9) dan diteruskan langsung kepada penasihat dan menantu Presiden AS Donald Trump, Jared Kushner, yang mengunjungi delegasi Bahrain di Abu Dhaby sehari setelah berkeliling AS dan Israel , Uni Emirat Arab. .

BACA JUGA  Sebuah Restoran di RS Thailand Sajikan Masakan Dengan Daun Ganja

Kunjungan Kushner menandai awal dari hubungan diplomatik yang terbuka dan penuh antara Israel dan UEA.
Harapan Kushner untuk mengubah posisi Bahrain pupus ketika Raja Hamad bin Isa Al-Khalifa menyatakan bahwa dia tidak dapat mencapai kesepakatan dengan Israel sebelum Arab Saudi turun tangan.

Meskipun pihak Riyadh memuji inisiatif UEA-Israel, itu mempertahankan posisinya. Konsisten dengan posisi sebagian besar negara Arab selama beberapa dekade, Arab Saudi bersikeras bahwa tidak akan ada langkah untuk menormalisasi hubungan dengan Israel sampai negara Yahudi tersebut setuju untuk membentuk negara Palestina merdeka.

BACA JUGA  Calon Jamaah Haji Tahun 2021 Wajib Divaksin COVID-19

Pada 2002, mendiang Raja Abdullah pernah menawarkan normalisasi penuh dengan israel. Tawaran itu sebagai imbalan atas proposal negara Palestina di bawah kesepakatan dengan Arab Peace Initiative.
Meski demikian, tawaran tersebut tidak pernah diterima oleh Israel, dan sebaliknya, negara Zionis justru memperkuat pendudukan di Tepi Barat.
Para kritikus berpendapat bahwa dalam menghadapi tawaran perdamaian yang tulus, Israel lebih suka menyita tanah daripada membuat perdamaian.

Posisi Uni Emirat Arab dalam menyerukan kesepakatan normalisasi untuk mencegah pencaplokan lebih lanjut atas wilayah Palestina telah menimbulkan kekecewaan. Ini karena Israel hanya menangguhkan rencana untuk mencaplok sebagian Tepi Barat dan belum berhenti secara permanen.

BACA JUGA  Trump Dan Istri Jalani Test Corona Setelah Ajudannya Dinyatakan Positif

Penentang perjanjian normalisasi berpendapat bahwa perjanjian itu tidak ada artinya. Sebaliknya, ini membantu Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Israel memperkuat posisi mereka.

Leave a Comment