Wage Rudolf Supratman, Seorang Wartawan Pencipta Lagu Indonesia Raya

Pemerintah meminta masyarakat Indonesia menghentikan aktifitas sejenak dalam rangka HUT kemerdekaan RI pada Senin (17 Agustus 2020) pukul 10.17-10.20 selama tiga menit. Kegiatan tersebut terhenti pada saat pengibaran bendera merah putih dan nyanyian lagu Indonesia raya. Berbicara tentang lagu Indonesia Raya, tentunya tidak bisa lepas dari karakter Wage Rudolf Supratman. Ia adalah pencipta lagu sekaligus maestro musik ternama asal Indonesia.

Seperti apa kehidupan WR Supratman? Seorang jurnalis WR Supratman lahir pada tanggal 9 Maret 1903, putra dari sersan KNIL Djoemeno Senen Sastrosoehardjo dan Siti Senen. Supratman dikenal sebagai komposer yang banyak menggubah lagu-lagu pertempuran. Pekerjaan sebenarnya, adalah sebagai jurnalis dan penulis buku. Lagu-lagu pertempuran yang diciptakannya tidak lepas dari komunikasinya dengan para tokoh yang bergerak. Lagu perjuangan pertama WR Supratman berjudul “dari barat sampai ke timur”.

Dia menciptakan lagu itu karena dia sangat senang mendengar bahwa akan ada penyelenggaraan kongres pemuda yang akan diselenggarakan dari tanggal 30 April hingga 2 Mei 1926. Di Kongres Pemuda, Supratman terkesan dengan pidato tokoh-tokoh gerakan nasional, M Tabrani dan Sumarto, yang mewujudkan cita-cita “Satu Nusa Satu Bangsa” bernama Indonesia Raya. Ia kemudian menyampaikan keinginannya menggubah lagu sesuai isi pidato bertajuk Indonesia Raya kepada kedua tokoh tersebut. Lagu Indonesia Raya akhirnya dimainkan pertama kali pada malam terakhir Kongres Pemuda Kedua, yang bertepatan pada 28 Oktober 1928.

Untuk menghindari tekanan dari Belanda, lagu itu hanya dimainkan dengan instrumen biola WR Supratman tanpa lirik. Namun, teks liriknya sebelumnya telah dibagikan kepada penonton. Lirik lagu Indonesia Raya baru terdengar saat panitia membubarkan Kongres Pemuda Kedua pada Desember 1928. Lagu Indonesia Raya dibawakan kembali oleh paduan suara, dan WR Supratman mengiringinya sambil memainkan biola. Indonesia Raya dikenal sebagai lagu kebangsaan Indonesia. Sampai saat ini lagu WR Supratman masih menjadi lagu kebangsaan Indonesia yang terus bergema di setiap upacara bendera dan acara resmi.

Pada tahun 1930, Belanda melarang menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan alasan ketertiban dan keamanan. Mereka merasa terganggu dengan teks yang menggunakan kata “merdeka”. WR Supratman selaku pencipta lagu itu akhirnya diinterogasi oleh Belanda. WR Supratman mengaku tidak pernah menggunakan kata “merdeka” dalam lagu itu. Dalam teks aslinya, kata yang dia gunakan adalah “mulia”. Namun, kata dia, liriknya diganti pemuda menjadi “Merdeka”. Setelah beberapa masa polemik, lagu Indonesia Raya akhirnya bisa dimainkan lagi asalkan hanya di ruang tertutup.

Banyak orang yang mengatakan bahwa lagu WR Supratman Indonesia Raya mirip dengan lagu Rouget La Marseille-Lied de L’isle (1922). Bukan tanpa alasan, WR Supratman mengakui, dirinya sangat terkesan dengan semangat lagu kebangsaan Prancis saat pertama kali mendengarnya. Pada 7 Agustus 1938, WR Supratman ditangkap oleh Belanda atas lagu terakhirnya Matahari Terbit. Pasalnya, lagu tersebut diinterpretasikan oleh Belanda untuk membantu kebangkitan Kekaisaran Jepang yang dijuluki Negeri Matahari Terbit itu. Akan tetapi, tuduhan tersebut tidak terbukti dan WR Supratman akhirnya dibebaskan dari penjara. Tidak lama setelah dipenjara, Supratman jatuh sakit parah, yang membuatnya tewas.

“Saya yakin Indonesia akan merdeka,” kata WR Supratman kepada Urip Kazansengari sebelum dia meninggal. . WR Supratman meninggal pada 17 Agustus 1938 di usia muda, 35 tahun. 17 Agustus 1945: Jemuran bambu menjadi tiang bendera. Tujuh tahun setelah kematiannya, keyakinan WR Supratman terbukti. Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, hari yang sama dengan wafatnya Supratman.

Selain lagu Indonesia Raya, Supratman juga menggubah beberapa lagu lainnya, seperti Dari Barat ke Timur, Bendera Kita, Bangun Teman, Ibu Kita Kartini, Ibu Indonesia Hai, hingga Matahari Terbit. Atas jasa dan komitmennya kepada Indonesia, WR Supratman dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah pada 10 November 1971.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *